Aksara Kita dalam Selimut Hujan



Ini waktu yang tepat untuk mengaksara
Tak perlu banyak bicara, lihat
Jemari ini telah siap dengan tumpah ruah ceritanya

Tanah di seberang sana masih mengering saja, sekering hati ini sesaat
Sebelum akhirnya waktu mengantarkanku padamu
Tak ada suara antara kita saat itu
Karena guyuran air deras menghujam batu dan cadas
Aku, kau, kita tenggelam menikmati kesyahduan yang alam ciptakan
Petrichor.
Aroma khas tanah yang senantiasa menyeruak kala hujan turun
untuk sekedar mendamaikan hati yang gulana
Dan petrichor seperti halnya kau yang entah datang ‘tuk sekedar sirami keringnya hati ini
Lalu bulir demi bulir air yang kita lihat seperti menyorakiku gila
Ya, aku amat menggilai petrichor saat itu, begitu juga padamu

Kini, hujan memunguti sisa diamku.
Membungkusku rapat hingga membisu
Tentu kau masih ingat desau hujan saat itu
Dan juga petrichornya yang menentramkan
Tidakkah kita harus berterimakasih padanya?
Tentu saja.
Kau hujan, kau yang menggerakkan aksaraku bersuara

Kau hujan rinduku, kau yang mencipta kegilaan ini

Yogyakarta, 16 Juli 2014

Posting Komentar

Suggested Article to Read

LDM, Karier dan Trimester Pertama Kehamilan

Memutuskan LDM Tiga hari setelah acara pernikahan pada 28 Oktober 2018, saya dan suami harus berpisah jarak. Jika kebanyakan pengantin ...

My Instagram

Copyright © dianyuanitaw.com. Made with by OddThemes