Langsung ke konten utama

KILAS : HIKMAH GAGAL BUNUH DIRI SEKIAN KALI (Bag. III)


Setiap orang pasti punya masalah. Masalah adalah elevator kita supaya naik level kehidupan yang lebih tinggi. Menurut saya kemungkinannya: take or leave. Hadapai atau tinggalkan (hindari) saja masalahnya, cari zona yang paling nyaman.

Pedih dan Iri Hinggap Tanpa Ampun
Sejak saya usia 8 tahun saya sudah menghadapi masalah berupa perceraian orang tua yang dampaknya mengikut hingga saya beranjak dewasa. Bisa dibayangkan, anak ingusan seperti saya di waktu itu sering dihinggapi rasa iri ketika momen pengambilan raport tiba, ketika musim liburan, ketika lebaran, dan banyak momen lainnya. 

Jika banyak kawan sekelas yang orangtuanya lengkap hadir saat pengambilan raport, maka hanya Mama saya sendirilah yang datang. Untuk selanjutnya lambat laun saya jadi tahan kuping ketika kawan bertanya ‘Kok yang ngambil raport Ibumu aja?’.

Jika banyak kawan sepermainan selalu mengagendakan liburan semester bersama Ayah Ibunya, maka saya tidak akan demikian. Saya memilih tinggal di rumah membantu Mama, merawat ladang bayam saya, atau menulis cerita pendek untuk kemudian dikirim ke surat kabar. Mama sangat jarang mengajak kami liburan. Sangaaaaaat jarang. Saya dan adik terkadang juga merengek namun seringnya ditanggapi dingin oleh Mama. Sejurus kemudian kami berdua menjadi terbiasa : tiada kata liburan keluarga saat liburan semester.

Oh ya, momen lain yang paling menyesakkan saat liburan adalah saat membeli peralatan belajar baru di swalayan. Setiap berdiri di swalayan, pedih hati saya melihat keluarga yang begitu bahagia dipandang. Melihat anak seusia saya memilih tas baru ditemani oleh Ayah dan Ibunya kemudian saya menengok ke diri sendiri, di samping saya hanya ada Mama dan adik saya. Pedih dan iri hinggap tanpa ampun. Mata saya panas, hati saya gemetar. Ya, saya sudah sering merasakan hal itu di masa yang masih sangat belia.

Lain lagi saat momen lebaran. Saya dan adik dibawa ke rumah nenek dari garis Mama saya. Tanpa Papa, jelas. Setelah shalat Idul Fitri, seperti ritual keluarga pada umumnya, sungkeman. Maka urutan saya bersungkem adalah seperti ini : Kakek, Nenek, Mama, Tante, Om.  Tanpa Papa, jelas.

Hal yang belum disampaikan ke pembaca yakni seusai perceraian orangtua saya, saya dan adik menjadi sangaaaaaat terbatas untuk bertemu Papa. Kami dan Papa bertemu hingga sampai saya duduk di bangku SD kelas IV. Cara pertemuan kami pun unik. Mama akan memberitahu saya dan adik bahwa (misal) hari ini Papa mengajak bertemu di SD. Maka sepulang sekolah, saya dan adik akan menunggu Papa di jam yang telah ditentukan di toko samping SD kami saat itu. Setibanya Papa akan memberikan uang saku, dan kemudian pergi. Kami hanya bertemu sepekan sekali atau bahkan sebulan sekali saja.

Namun pertemuan tersebut tidak berlangsung lama sampai akhirnya Papa tidak menemui kami sama sekali hingga hampir 10 tahun lamanya. Bahkan selama hampir sepuluh tahun itulah saya tidak tahu apakah Papa saya masih hidup atau sudah wafat. Sama sekali tidak ada kabar karena konon Papa pindah keluar kota.

Lantas bagaimana momen lebaran setelah perceraian orangtua saya sampai akhirnya Papa benar – benar ‘pergi’?

Ini lebih unik lagi. Setelah puas berlebaran di rumah nenek, saya dan adik akan diantar Mama ke terminal salah satu kota di Jawa Tengah. Selanjutnya kami diminta menunggu di suatu toko dan tak lama setelah itu Papa menjemput kami. Kami dibawa ke rumahnya (saat itu Papa tinggal di rumah sendiri) dan berlebaran dengan Papa dua sampai tiga hari saja. Usai berlebaran dengan Papa, kami dibawa ke terminal dan dijemput oleh Mama.

Jika mungkin pembaca terheran – heran ‘Dian kok berani banget cerita masalah ini ke publik?’

Karena tidak setiap orang menghadapi masalah layaknya saya di waktu kecil.

Apabila pembaca diberkahi dengan keluarga yang utuh, harmonis, bahagia, sudah sangat sepatutnya bersyukur. Sudah sepatutnya berbenah diri jika selama ini masih banyak mengeluhkan masalah yang dihadapi, apalagi untuk masalah yang remeh temeh. Betul?

Rasa pedih dan iri yang saya rasakan sejak kecil seolah seperti terpupuk dan berkembang. Karena menjadi terbiasa untuk pedih dan iri, utamanya dengan kebahagiaan keluarga lain, maka ada emosi negatif yang tersimpan dalam diri saya.

PS : Cerita saya di part berikutnya (part IV) akan jadi part terakhir.

Yogyakarta, 29 November 2016.

Komentar

  1. Dian, aku paham kamu lebih kuat dari yang terlihat, selamat yaa, prosesmu sangat panjang :*

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Pernikahan Impian: Intimacy, Simplicity, and Low Budget

“Marriage is not a noun; it’s a verb. It isn’t something you get, but something you do.”-Anonim 
Atas izin Allah dan ridha dari lika-liku panjang, akhirnya saya menikah pada 28 Oktober 2018. Momen pernikahan adalah momen yang paling membahagiakan, but also quite challenging at the same time. Terlebih saya sebagai survivor broken home yang sempat memiliki trauma pernikahan orang tua.
Pada edisi tulisan kali ini, saya akan berbagi tentang persiapan yang saya dan Mas Azwar (suami) lakukan sebelum melangsungkan acara pernikahan. Ulasan akan lebih banyak pada manajemen nikah on budget! Hehehe. Tentunya setiap orang memiliki cita-cita dan pengalaman menikah tersendiri. Sehingga perlu saya sampaikan di awal bahwa apa yang saya bagikan disini adalah berdasar cita-cita dan pengalaman kami yang barangkali berbeda dengan pembaca. Namun semoga bisa memperkaya khazanah kita bersama ya! ;)



Introduksi: Persiapan Awal Banyak persepsi yang menyebut bahwa acara akad dan resepsi atau tasyakuran menjadi tang…

Jumpalitan Hati Jadi Founder Komunitas Anak Broken Home

Menjadi founder suatu komunitas sejatinya tidak menjadi salah satu impian dalam hidup saya. Saya sungguh sadar bahwa menjadi founder komunitas ibarat membangun rumah dimana kita sendirilah yang menjadi arsitek, tukang, sekaligus penghuninya. Jika ingin rumah kokoh kuat dan tahan lama, maka fondasinya harus bagus dan perawatannya harus rutin. Sama halnya dengan membangun komunitas: tidak bisa asal bangun dan lambat laun mangkrak begitu saja.
Secara definisi komunitas adalah kelompok sosial yang memiliki kesadaran bersama (senasib, sepenanggungan, atau satu ketertarikan) dan saling berinteraksi. Di belahan bumi ini tak terhitung jumlah komunitas yang berkembang. Setiap komunitas pastilah memiliki visi, misi dan tujuan yang positif. Entah untuk mengembangkan minat, mengasah bakat, memperluas jejaring dan lainnya.

Gejolak Batin Membangun Komunitas untuk Anak Broken Home Pada Februari 2015, mendadak terlintas dalam benak untuk membangun komunitas yang mewadahi anak – anak broken home. Ide itu…

KILAS : HIKMAH GAGAL BUNUH DIRI SEKIAN KALI (Bag. I)

“Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh kemudian hari.”
Satu pepatah dari Pramoedya Ananta Toer menggerakkan tangan saya untuk menulis sekilas perjalanan hidup selama saya tumbuh dan berkembang di bumi yang subur ini. Saya menulis untuk tak terhitung anak korban (survivor) broken home yang masih abu – abu dalam menghadapi getirnya hidup.