Meditasi: Ketenangan Hidup adalah Sumber Kebahagiaan

Disclaimer: apa yang saya bagikan dalam tulisan ini adalah murni apa yang saya lakukan. Saya bukanlah seorang yang mafhum mengenai meditasi, sehingga apa yang saya bagikan tentu masih jauh dari kelengkapan informasi tentang meditasi secara utuh.

Siapa yang sudah tahu kabar terakhir tentang Thailand cave rescue yang jadi perbincangan hangat akhir – akhir ini? Tepat hari ini saya menulis (11 Juli 2018), ketiga belas orang yang terjebak di dalam Goa Tham Luang Nuang berhasil diselamatkan! Sebagai permulaan, nampaknya kita perlu sejenak refleksi dan menyetujui bahwa momen ini menjadi pengingat bahwa persatuan dan kerjasama ternyata beyond everything. Bagaimana tidak, misi penyelamatan ini sangat dramatis melibatkan ribuan orang yang terdiri dari berbagai latar belakang serta negara. Jalur evakuasi menuju lokasi penyelamatan yang amat panjang (4 km!) ditambah dengan kondisi goa yang terendam banjir menjadi medan tempur yang sangat sulit ditaklukkan.

Saya mengetahui berita ini pada tanggal 25 Juni di The Jakarta Post edisi cetak.  Hal yang pertama muncul dalam benak saya saat itu adalah ‘how they can survive?’. Jujur, saya sempat pesimis mereka akan selamat begitu mengetahui kondisi di dalam goa yang kebanjiran. Terlebih mengetahui mereka tidak membawa perlengkapan caving. Hari – hari berlalu, media semakin intens memberikan info terkini tentang penyelamatan tim sepak bola Thailand U-16 ‘Wild Boar’ dan sang pelatih. Menginjak seminggu pemberitaan yang menyatakan mereka dalam kondisi baik – baik saja meski belum bisa dibawa keluar goa, pertanyaan saya masih sama dan semakin menguat ‘how they can survive???’.

Hingga pada akhirnya saya membaca artikel bahwa pelatih ‘Wild Boar’ adalah seorang biksu yang mengajarkan timnya untuk bermeditasi selama terperangkap di dalam goa. Saya tersenyum puas usai membaca artikel tersebut. Bangga, haru. Masuk akal.

Sebelum pemberitaan tentang pelatih ‘Wild Boar’ Ekkapol Ake Chantawong berkembang, saya sudah cukup intens berbagi pengalaman saya tentang manfaat meditasi ke akun instagram via insta-story, whatsApp dan forum online Komunitas Inspirasi HAMUR. Meditasi adalah salah satu upaya yang rutin saya lakukan sejak tiga tahun yang lalu sebagai bagian dari self-healing therapy.  Meski sebenarnya saya sudah mulai melakukan meditasi sejak usia 17 tahun, dulu saya tidak benar – benar melakukannya secara sadar.  

Di bangku SMA, saya bergabung dalam komunitas teater yang mewajibkan kami untuk meditasi sebelum dan sesudah latihan dan/ pementasan.  Lanjut saat berkuliah, saya juga melakukan hal yang sama pada kelompok teater dan UKM silat yang saya ikuti. The ultimate goal dari meditasi ini adalah mengumpulkan energi dan melatih konsentrasi.  Sebatas itu pengetahuan yang saya miliki.

Hingga sekitar tahun 2015 pelatih teater saya di Teater Gadjah Mada, Alm. Romo (semua anak didiknya memanggil beliau ‘Romo’), bertanya secara personal pada saya dalam suatu latihan intensif. Rupanya Romo menangkap gerak – gerik saya yang tidak nyaman dari awal latihan.

“Sudah tanya kabarmu hari ini?” tanyanya. Saya terpaku mendengar pertanyaan Romo. Terdiam beberapa saat, sampai akhirnya lirih menjawab, “Nggak pernah tanya, Mo.”

Romo, yang juga seorang pelatih Yoga, lantas menyuruh saya hening lagi. Hening adalah sebutan lain dari meditasi bagi kami.

“Coba kamu tanya kabarmu hari ini pada dirimu sendiri. Hari ini aja.”

Mojoklah saya seorang diri dan menuruti saran Romo. Hening yang kami lakukan sangatlah sederhana dengan posisi duduk tegap bersila, tangan mengepal lemas dan mata terpejam. Sesekali kami menggunakan musik instrumen lirih untuk mengiringi hening, namun seringnya kami hanya menggunakan suara alam; suara deru angin, ranting pohon yang bergesekan, dan masih banyak lainnya.

“Dian bagaimana kabarmu hari ini?” tanya saya pada diri saya sendiri. Oh, bagaikan pisau yang menghujam jantung saya saat itu.. saya sesak seketika, menangis tak tertahankan. Begini rasanya 20 tahun tidak menanyakan kabar pada diri sendiri? Selama kurang lebih 15 menit saya hening, saya hanya menangisi pertanyaan tersebut. Sulit menjelaskan apa yang saya rasakan saat itu. Tapi setidaknya saya mampu menyimpulkan bahwa selama 20 tahun, saya belum benar – benar peduli dan merawat diri saya sendiri. Miris, kacau.

Usai hening saya kembali pada Romo dalam suasana hati yang sangat sedih.
“Udah, latihannya ditunda besok saja. Kamu pulang dulu. Coba kamu sering – sering hening dan ajak dirimu ngobrol.” Kurang lebih begitu ujaran Romo yang bikin saya merenung sepanjang hari.

Selama ini saya rasa selalu berpikir matang dalam setiap pengambilan keputusan, coba merenung tiap mendapat kesulitan, selalu berdoa, apakah itu bukan bentuk ngobrol dengan diri sendiri?

***

Memaknai Meditasi
Pertengahan tahun 2015 saya putuskan datang ke psikolog karena kondisi psikologis saya yang semakin tidak sehat; kerap menyakiti diri sampai bunuh diri tiap trauma muncul. Singkat cerita dari sharing dengan psikolog (yang saya enggan sebutkan namanya) saya mendapat banyak pengetahuan tentang self-healing termasuk di dalamnya inner child therapy dan meditasi.

Menurut KBBI, meditasi berarti pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Dalam istilah yoga meditasi disebut dhyana, dalam Bahasa Sansekerta disebut Samadhi (selanjutnya dalam istilah Jawa disebut semedi) dan dalam pengertian Islam istilah meditasi identik dengan dzikir atau tafakur.

Setelah memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih komprehensif, saya jadi tersadar bahwa sesungguhnya saya sudah melakukan meditasi sejak saya kecil, sejak saya mengenal shalat dan dzikir.  Berbekal wawasan dan pengetahuan tersebut, saya mulai lebih rutin dan dalam dalam melakukan meditasi. Maka, meditasi yang saya maknai dan lakukan disini yaitu shalat dan dzikir diupayakan dengan khusyuk, hening dan terus mengafirmasikan hal – hal positif. Selanjutnya hal ini rutin saya lakukan setiap hari sejak tiga tahun yang lalu.

Ibarat kata, ritualnya begini…
Dimulai dengan bangun pagi, saya duduk hening sejenak, menengadahkan tangan mengucap syukur telah diberi kesempatan tidur dan bangun. Mengapa harus menengadahkan tangan? Buat saya, gerakan tubuh positif semacam ini semakin menghayati doa dan hening. Hening  merupakan kondisi pemusatan pikiran dan perasaan (persis seperti arti meditasi dalam KBBI, olehnya kami di Teater Gadjah Mada juga UKM silat Perisai Diri menyebutnya sebagai hening) kemudian diliputi dengan doa syukur dan menghayati sensasi tubuh. Selanjutnya setiap selepas shalat Subuh saya selalu upayakan berdzikir semampunya lebih lama sembari juga hening di dalamnya.  Tentu tidak lupa menanyakan kabar pada diri saya sendiri, memproyeksikan hal – hal yang ingin saya lakukan dalam sehari, dan mengafirmasikan hal – hal positif.

Di sela – sela aktivitas terkadang saya juga melakukan hening dimanapun saya berada. Hening atau meditasi tidak hanya dilakukan dengan duduk bersila dan mata terpejam. Kita bisa melakukan dalam kondisi apapun karena hal utama dalam meditasi atau hening adalah pengendalian pikiran dan perasaan, bukan suasana. Contoh ketika saya menemui hal alot yang bikin gelisah, saya akan coba hening sejenak sembari istighfar atau dzikir lainnya. Paling sering saya melafalkan “hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wa nikman nasir” yang artinya “cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik – baiknya pelindung”. Setiap dzikir saya coba hayati dan hasilnya saya benar – benar merasakan sensasi tubuh yang lebih tenang, optimisme tumbuh karena yakin bahwa Tuhan akan senantiasa memberi pertolongan.

Setahun belakangan saya lebih merutinkan meditasi semacam ini; lagi – lagi istilahnya berarti shalat dan dzikir diupayakan dengan khusyuk, hening dan terus mengafirmasikan hal – hal positif, dan saya merasakan dampak positif yang amat sangat luar biasa. Jika saya rangkum, secara garis besar adalah sebagai berikut.

  1.  Menemukan ketenangan batin yang sangat sejuk. Tidak jarang juga sampai saat ini saya masih gelisah, was - was, atau tidak sabaran. Tapi semenjak rutin meditasi, dalam palung hati terdalam ada ketenangan yang nantinya jadi sumber kekuatan. Sehingga seringnya perasaan tidak tenang semacam ini tidak bertahan lama. Entah bagaimana bisa.
  2. Selalu meyakini bahwa hidup adalah untuk  berbagi, saling tolong menolong dan berbuat kebaikan. Ini yang juga selalu saya coba tanamkan di Komunitas Inspirasi HAMUR bahwa muara hidup adalah akhirat sehingga mengisinya dengan kebaikan merupakan suatu kewajiban. Simpelnya: nggak masalah kita nggak cantik, kaya, pintar, yang penting baik. Baik dalam hal ini salah satunya yaitu selalu berprasangka baik kepada orang lain. Susah ya melakukannya, tapi meditasi membantu saya untuk demikian. 
  3. Mudah menoleransi, mampu mengerti orang lain dan memaafkannya. Ini yang saya juga heran. Saya hampir nggak tahu dan lupa gimana rasanya dendam. Sebab dendam adalah indikasi kita tidak mengerti dan memaafkan orang lain. Dulu sebelum rutin meditasi, pikiran – pikiran jahat seperti sumpah serapah “liat aja nanti kamu kena karma apa” sering bermunculan tiap konflik dengan orang. Tapi it’s completely gone!! Setiap hal tidak baik yang orang lakukan ke saya, saya tidak ada perasaan marah bahkan dendam. Sebaliknya, sering saya malah mendoakan seperti “semoga Allah merahmatimu dengan kebaikan dan keberkahan”. Bagi sebagian orang ini terdengar seperti tidak nyata, tapi yaaa.. inilah yang saya alami. Termasuk juga memaafkan orang – orang di masa lalu yang ada kaitannya dengan trauma yang saya alami.
  4. Mampu melihat suatu masalah dari perspektif yang lebih luas dan tidak buru – buru menyimpulkannya.
  5.  Level kepasrahan meningkat. Maksud dari pernyataan ini sangat luas termasuk di dalamnya tidak pamrih atas apa – apa yang diupayakan untuk kebaikan orang lain. Menolong karena beribadah.
  6. Menjadi pribadi yang not ambitious in setting up goals, for if you don’t achieve them, you disappointed. I don’t, I simply just work for it. Selalu meyakini bahwa yang penting terus berproses dan berpasrah pada Tuhan. Do my best, let God do the rest. Tidak ada kekecewaan yang benar – benar ada jika saya tidak berhasil pada suatu hal karena saya yakin Tuhan menyediakan jalan lain yang lebih pas dan barokah buat saya. Pas dan barokah.
  7. Banyak rekan yang mengenali saya dari jaman dulu merasakan perbedaan aura dalam diri saya. Katanya, saya semakin enak dilihat. Saya berpikir, mungkin dulu saya dipenuhi oleh rasa amarah, tidak menerima, dan hal kurang baik lainnya meskipun juga saya selalu mengupayakan kebaikan. Sehingga aura kebaikan tersebut menjadi tidak nampak. Anyway, saya tidak terlalu paham dalam hal membicarakan aura sehingga saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut ya.
  8. Pikiran bunuh diri lenyap. It’s healed. Meski kadang dalam suatu keadaan trauma muncul, puji syukur saya bisa mengantisipasi dan mengatasinya. Nah, untuk teman – teman yang juga punya Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) mungkin bisa coba meditasi. Atau orang yang berjuang mengatasi depresi, panic attack, krisis kepercayaan diri dan lainnya, barangkali saya bisa menyarankan untuk meditasi juga. Saya tidak tahu persis bagaiman korelasinya dengan psikologis, tapi insya Allah ini sangat bermanfaat untuk kesehatan jiwa.
  9. Jarang bangeeet maag kambuh. Dulu sebelum meditasi, maag sering kambuh. Sempat beberapa kali periksa, beberapa dokter mendiagnosa sama; saya punya maag akut. Setelah meditasi, maag saya hampir tidak pernah kambuh. Pol – polan kalau memang lagi telat makan berhari – hari saat beban kerja yang tinggi. Alhamdulillah.


Susahnya Menjaga
Sering saya menemukan kesulitan dalam menjaga itikad baik ini. Faktornya banyak mulai dari lingkungan hingga beban mental. Tapi keep progressing adalah kunci. Selalu saya usahakan pegang prinsip: hidup hanya sementara dan harus dipenuhi dengan kebaikan.  Ketika ada hal tidak baik saya terima atau hal bertentangan dengan nurani, cepat – cepat saya mengkondisikan agar tidak terperangkap dalam emosi negatif yang dapat merusak kebaikan. Memang tidak mudah, tapi insya Allah, Tuhan memberikan kemampuan.

Kaitannya dengan Thai cave rescue, saya kemudian meng-oh-kan setelah tahu mereka yang terjebak dalam goa selama kurang lebih 17 hari melakukan meditasi. Oh tentu saja meditasi memberikan peluang besar untuk selamat karena memang manfaatnya yang sangat luar biasa.  Bagi orang yang pernah atau sering meditasi, pasti sama – sama setuju bahwa ketenangan hidup adalah sumber kebahagiaan. Pendek saya berpikir bahwa tim ‘Wild Boar’ menemukan puncak ketenangan, kepasrahan dan keyakinan meski dalam kondisi yang membahayakan seperti itu.

Logikanya, jika kita tidak tenang, panik dan dipenuhi ketakutan, sangat mungkin kita bernafas lebih sering dari biasanya bukan? Kita jadi lebih sering menghirup oksigen karena butuh energi yang dipecahkan untuk berpikir keras mencari solusi sesegera mungkin. Bagaimana jika hal ini dialami oleh ‘Wild Boar’? Saya rasa mustahil untuk mereka survive selama 17 hari di dalam goa yang gelap, minim cadangan makanan dan oksigen untuk 13 orang!

Pada tahun 2016, saya menjadi delegasi untuk acara “International Forestry Student Program” di Korea Selatan. Tanpa disangka saat itu kami berkesempatan mengunjungi dan menginap di Woljeongsa Temple untuk belajar bersama biksu menghayati alam diantaranya dengan meditasi. Banyak pelajaran saya terima salah satunya yaitu pelajaran menenangkan nafas. Sampai sekarang saya masih belum mengerti bagaimana metode yang benar. Tapi yang jelas menenangkan nafas memang penting dalam meditasi untuk memusatkan pikiran dan perasaan. Tidak hanya meditasi, notabene dalam kondisi apapun sebenarnya menenangkan nafas sangat penting untuk menumbuhkan ketenangan batin.

Doc. Nilay | Saya dan delegasi dari berbagai negara berlatih meditasi bersama biksu

Doc. Nilay | Di depan kuil selepas meditasi

Saya mengkorelasikan hal tersebut dengan Thai cave rescue.  Bahwasanya sangat mungkin mereka menerapkan cara menenangkan nafas sehingga mereka mampu survive selama 17 hari dalam goa yang minim oksigen dan keluar dalam keadaan selamat! Wallahu’alam. Yang pasti campur tangan Tuhan senantiasa menyertai.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan sebagai anjuran bahkan rujukan, namun sebagai pengingat saya pribadi untuk selalu bisa menjaga itikad baik ini. Ups and downs adalah keniscayaan, tapi kebaikan harus senantiasa dirawat sampai akhir hayat. Jika pembaca berekspektasi saya membahas meditasi tidak seperti ‘bagaimana membuka cakra, bagaimana mengoptimalkan aura’ dan hal sejenis lainnya, maka saya sampaikan permohonan maaf. Seperti yang saya sampaikan di disclaimer, tulisan ini merupakan wadah saya berbagi tentang meditasi yang upayanya berupa shalat dan dzikir yang khusyuk, hening dan mengafirmasikan hal – hal positif.

Rutinitas padat dunia terkadang membuat kita alpa mengenali diri sendiri, enggan mengilhami nurani yang hakikatnya lebih murni, beribadah hanya sebagai gugur wajib hingga waktu – waktu berlalu jadi sibuk semata. Semoga kita senantiasa diberikan nikmat sempat, sebab kata Buddha:
“In the end, only three things matter: How much you loved, how gently you lived, and how gracefully you let go of things not meant for you.”
 



Posting Komentar

Suggested Article to Read

LDM, Karier dan Trimester Pertama Kehamilan

Memutuskan LDM Tiga hari setelah acara pernikahan pada 28 Oktober 2018, saya dan suami harus berpisah jarak. Jika kebanyakan pengantin ...

My Instagram

Copyright © dianyuanitaw.com. Made with by OddThemes