Langsung ke konten utama

Memahami Ketidaksederhanaan Self-Love




Tema self-love menjadi tema yang sangat menarik buat saya sebab sampai detik ini saya masih berupaya mencintai diri sendiri sepenuhnya. Seberapa besar esensi self-love sehingga kita perlu untuk belajar dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari? Konsep sederhananya self-love berkaitan dengan kebahagiaan, baik kebahagiaan yang dimiliki diri sendiri maupun orang lain. Bagi saya, self-love is very important because it helps us to keep our own attitude, our own personal space and also helps us to know about ourselves. By knowing ourselves better, we can love others.
Sumber: https://www.cartoonstock.com/directory/s/self-love.asp

Hal yang mudah? Mungkin tidak.

Banyak orang ramai memperbincangkan self-love, bahkan tagar #selflove dipasang hampir 25 juta post di instagram. Tapi barangkali tidak banyak yang benar-benar paham apa itu self-love, seperti yang diutarakan oleh salah satu pembicara di talkshow “Self-Love: Perkara Apa, Bagaimana dan Selanjutnya Kemana?” yang diadakan pada 23 Februari 2019 lalu di Jakarta Selatan. Talkshow yang diadakan oleh Komunitas Lewat Jam Tiga ini menghadirkan pembicara antara lain Regisda Machdy (Founder pijarpsikologi), Gratiagusti Chanaya Rompas (penulis), dan Caecilia Dian Pratiwi (Founder Get Happy). Ketiga pembicara yang merupakan penyintas mental illness secara khusus membagikan pengalaman mereka tentang bagaimana kisah mereka jatuh melewati masa-masa sulit, kemudian bangkit sampai mendekati pulih, dan terus mencintai diri sendiri.


Mental Illness dan Self-love
Gratiagusti Chanaya atau akrab dipanggil Anya memaparkan bahwa mental illness is something real, membutuhkan treatment plan yang sama halnya dengan orang dengan penyakit fisik tertentu. Salah satu treatment plan yang bisa diupayakan yaitu dengan menumbuhkan kecintaan terhadap diri sendiri. Meski nampak sederhana, Regisda yang juga merupakan Dosen Psikologi Universitas Surabaya menggarisbawahi bahwa mencintai diri sendiri bukan merupakan proses yang mudah dan sederhana. Seseorang akan mafhum apa itu self-love setelah dirinya jatuh ke palung hidup terdalam lalu mengaktualisasikan makna kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Sesi Mas Regisda | Dok. pribadi

Sesi Mbak Anya | Dok. Pribadi

Self-love merupakan salah satu bagian dari Teori Self dalam literature psikologi.  Secara umum proses atau tahapan yang perlu diupayakan dalam self-love yaitu memaafkan, menerima lalu mencintai. Jika dispesifikkan lagi untuk mencapai self-love harus melalui tahapan:

1.      Self-compassion, yang meliputi sikap-sikap:
·         Mindfulness atau hidup berkesadaran di masa kini dan tidak overthinking dengan  masa lalu maupun masa depan
·              Non-judgemental terhadap diri sendiri dan orang lain
·    Concern to humanity yakni sikap menerima semua manusia sebagaimana kita menerima diri sendiri

2.   Self-awareness atau peka terhadap diri sendiri. Peka dalam hal ini juga dimaksudkan paham tentang hal-hal yang menjadi trigger yang bisa mengacaukan suasana hati dan pikiran, sehingga kita bisa melakukan antisipasi yang adaptif.

3.      Self-love, puncak dari semua tahapan dimana kita mencintai diri sendiri tanpa syarat.
Tanpa syarat! Sehingga tidak ada lagi kita banyak pengandaian untuk mencintai diri sendiri.

“Andai kulitku putih, pasti aku lebih disukai banyak orang. Andai hidungku mancung.. Andai aku kurus…”

Regisda juga turut membagi pengalamannya tentang loving kindness meditation. Salah satu cara untuk memantapkan self-love dengan memiliki dan mengikrarkan mantra setiap hari, seperti, “Myself, I love you”. Menurutnya memiliki mantra seperti ini merupakan bentuk afirmasi positif yang mampu menenangkan serta memulihkan jiwa.


Dunia Mendesain Kesempurnaan
Around 450 million people currently suffer from such conditions, placing mental disorders among the leading causes of ill-health and disability worldwide.” -WHO, 2018

Mengapa semakin banyak orang mengalami gangguan jiwa? Karena dunia semakin lama mendesain sesuatu dengan takaran kesempurnaan, terang Regisda. Contoh, seorang yang dianggap memiliki paras cantik adalah perempuan yang punya tubuh langsing, rambut lurus, gigi rapih, kulit putih, dan hidung mancung. Seorang yang enak diajak bergaul adalah dia yang punya banyak teman, mapan, dan extrovert.

Hingga tanpa disadari konsep kesempurnaan yang sudah menjadi stigma di masyarakat justru menumbuhkan ambisi dan berdampak pada psikis beberapa orang karena ketakutan akan gagal memenuhi konsep tersebut. Praktisnya, jika dia tidak demikian maka dia tidak diterima di kelompoknya. Alhasil? Data Kementerian Kesehatan tahun 2017 menunjukkan sekitar 14 juta orang di Indonesia yang berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan kejiwaan berupa stress, depresi, dan kecemasan. Lebih lanjut tiga hal tersebut bisa menjadi lebih berat kondisinya jika tidak dilakukan treatment plan yang memadai.

Pembicara terakhir, Dian, yang merupakan penyintas borderline personality disorder berbagi pengalaman saat ia mengalami fase terberat dalam hidupnya yang enggan keluar rumah sampai dua tahun karena peristiwa traumatis. Selain kondisi psikis yang sedang tidak bagus, kondisi fisiknya turut serta menurun. Senada dengan Dian, Regisda sebagai penyintas double clinical depression dan Anya sebagai penyintas bipolar juga kerap merasakan fisik yang tidak sehat manakala ada trigger menyerang atau mengalami relapse. Relapse sendiri merupakan kondisi dimana seseorang mengalami hal yang pernah dialami dulu, istilah lainnya kambuh.
Sesi Mbak Dian | Dok. pribadi

Regisda lantas menguraikan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik adalah dua hal yang perlu dijaga keseimbangannya. Dua hal ini meski terlihat berbeda namun nyatanya saling mempengaruhi. Berdasarkan hal yang sering Regisda temui saat melayani konsultasi diantaranya orang yang tengah mengalami stress cenderung memiliki sakit kepala atau masalah pencernaan seperti maag.


Muara Self-Love
Kondisi mental yang sejahtera (mental wellbeing) yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif, sebagai bagian yang utuh dan kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia. Self-love tentu akan mampu menjaga dan meningkatkan mental wellbeing sebab kita tidak sekedar menjalani hidup tetapi juga menyertakan diri kita seluruhnya di dalamnya. Ya, mencintai diri sendiri, because at the end of the day we only have ourselves.
Kesemua pembicara telah membagikan pengalaman masing-masing tentang peran penting self-love dalam memulihkan jiwa mereka. Dukungan sosial juga sebenarnya sangat diperlukan, namun ada baiknya untuk fokus terhadap self-love itu sendiri karena dengan demikian kita juga bisa mencintai orang lain tanpa syarat.
Menghadiri acara talkshow ini merupakan momen yang membahagiakan -sekaligus mengharukan buat saya karena saya bisa merefleksikan diri saya saat ini. Sepanjang talkshow saya mengangguki dan mbrebes mili hampir semua hal yang dibagi oleh para pembicara, sebab saya juga merasakan dan mengalaminya. Terlebih beberapa waktu lalu saya sempat hampir relapse dalam kondisi tengah hamil muda.
Mencintai diri sendiri tidak sesederhana melakukan hal-hal yang membuat kita bahagia, tapi nyatanya ada aspek-aspek yang perlu diupayakan juga kaitannya untuk mencintai orang lain atau sesama makhluk Tuhan. Nah, semoga setelah ini saat pasang tagar #selflove di media sosial tandanya kita juga tengah belajar mencintai semua orang sebagaimana kita mencintai diri sendiri tanpa syarat. 


Jakarta, 20 Maret 2019.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Pernikahan Impian: Intimacy, Simplicity, and Low Budget

“Marriage is not a noun; it’s a verb. It isn’t something you get, but something you do.”-Anonim 
Atas izin Allah dan ridha dari lika-liku panjang, akhirnya saya menikah pada 28 Oktober 2018. Momen pernikahan adalah momen yang paling membahagiakan, but also quite challenging at the same time. Terlebih saya sebagai survivor broken home yang sempat memiliki trauma pernikahan orang tua.
Pada edisi tulisan kali ini, saya akan berbagi tentang persiapan yang saya dan Mas Azwar (suami) lakukan sebelum melangsungkan acara pernikahan. Ulasan akan lebih banyak pada manajemen nikah on budget! Hehehe. Tentunya setiap orang memiliki cita-cita dan pengalaman menikah tersendiri. Sehingga perlu saya sampaikan di awal bahwa apa yang saya bagikan disini adalah berdasar cita-cita dan pengalaman kami yang barangkali berbeda dengan pembaca. Namun semoga bisa memperkaya khazanah kita bersama ya! ;)



Introduksi: Persiapan Awal Banyak persepsi yang menyebut bahwa acara akad dan resepsi atau tasyakuran menjadi tang…

Jumpalitan Hati Jadi Founder Komunitas Anak Broken Home

Menjadi founder suatu komunitas sejatinya tidak menjadi salah satu impian dalam hidup saya. Saya sungguh sadar bahwa menjadi founder komunitas ibarat membangun rumah dimana kita sendirilah yang menjadi arsitek, tukang, sekaligus penghuninya. Jika ingin rumah kokoh kuat dan tahan lama, maka fondasinya harus bagus dan perawatannya harus rutin. Sama halnya dengan membangun komunitas: tidak bisa asal bangun dan lambat laun mangkrak begitu saja.
Secara definisi komunitas adalah kelompok sosial yang memiliki kesadaran bersama (senasib, sepenanggungan, atau satu ketertarikan) dan saling berinteraksi. Di belahan bumi ini tak terhitung jumlah komunitas yang berkembang. Setiap komunitas pastilah memiliki visi, misi dan tujuan yang positif. Entah untuk mengembangkan minat, mengasah bakat, memperluas jejaring dan lainnya.

Gejolak Batin Membangun Komunitas untuk Anak Broken Home Pada Februari 2015, mendadak terlintas dalam benak untuk membangun komunitas yang mewadahi anak – anak broken home. Ide itu…

KILAS : HIKMAH GAGAL BUNUH DIRI SEKIAN KALI (Bag. I)

“Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh kemudian hari.”
Satu pepatah dari Pramoedya Ananta Toer menggerakkan tangan saya untuk menulis sekilas perjalanan hidup selama saya tumbuh dan berkembang di bumi yang subur ini. Saya menulis untuk tak terhitung anak korban (survivor) broken home yang masih abu – abu dalam menghadapi getirnya hidup.