Langsung ke konten utama

Postingan

Suggested Article to Read

What It Is Like to Be A Mother

Disclaimer : I write this article to reflect on my recent journey to becoming a mother. I will share a bit more about my motherhood experience here. Therefore, I highly recommend if you think this will be boring, you can simply leave my blog (and thank you for your quick visit). For those of you who choose to stay and read until the end, I thank you very much. Hopefully, what I share below can give us some positive values. I also need to convey that every motherhood story is unique and can never be compared. There is no best or worst. All motherhood stories are beautiful. *** Prologue Become a mother. One thing that I never dreamed of in my childhood. A dozen years ago, I had no dreams of getting married and having children. I have traumatic marriage events because of my parent’s divorce. For some people who know a little bit more about my life story, they might know how my ups and downs heal trauma. How do I go through the healing process that has never been easy. Until a phase, God h
Postingan terbaru

Perjalanan Meraih Beasiswa LPDP: Dari Hamil Muda Hingga Pasca Melahirkan

A dream doesn’t become reality through magic; it takes sweat, determination and hard work. -           Colin Powell Disclaimer: Setiap orang pasti memiliki kisah dan pengalaman yang unik dan berharga. Berikut adalah kisah saya. Foto bersama PK 159 dengan Bapak Rionald Silaban (Direktur Utama LPDP) Prolog Setidaknya quote di atas menjadi salah satu pengingat terbaik pada setiap ikhtiar yang saya kerjakan, salah satunya ketikan mengkhtiarkan lanjut studi S2 dengan beasiswa. Mengapa harus dengan beasiswa? Quick answer , saya bukan terlahir dari keluarga yang mampu membiayai studi lanjut saya baik S2 dan S3. Lalu jika saya Orang tua (mama) saya pernah berujar bahwa beliau hanya mampu menyekolahkan saya sampai S1 saja. Itupun selama saya kuliah S1 saya harus getol mencari dan mendapatkan beasiswa. Dan saya bersyukur sekali Tuhan memberikan banyak pertolongan untuk saya meraih berbagai macam beasiswa dari semester I hingga semester IX (iya agak telat lulus satu semester hihi), sebutl

Trimester Kedua Kehamilan: Milestone yang Menakjubkan

Usia kehamilan 6 bulan. Segar 'kan ya? Sebuah Penyegaran Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman dan khalayak umum yang sudah membaca tulisan tentang pengalaman trimester pertama kehamilan saya. Tulisan tersebut pada akhirnya menuai banyak pertanyaan dan rasa penasaran baik dari kaum adam dan hawa, baik yang belum dan sudah menikah, serta baik yang tengah berupaya dan menjalani kehamilan. Pada chapter pertama saya memang lebih banyak mengulas dan memberikan introduksi tentang pengalaman menjalani trimester pertama dengan kondisi LDM dan bekerja full-time. Sehingga jika pembaca berekspektasi saya akan membagikan pengalaman kehamilan secara lebih “klinis” seperti berapa minggu janin terbentuk? Apa tanda-tanda kehamilan? Dan serupa lainnya… mohon maaf mungkin tidak saya bahas mendetail d i chapter tersebut. Hihihi. Maka sebelum saya membagikan pengalaman trimester kedua kehamilan, saya akan lebih dulu merangkum jawaban dari pertanyaan yang bisa dibilang kurang

LDM, Karier dan Trimester Pertama Kehamilan

Memutuskan LDM Tiga hari setelah acara pernikahan pada 28 Oktober 2018, saya dan suami harus berpisah jarak. Jika kebanyakan pengantin baru akan menghabiskan waktu awal pernikahan dengan berbulan madu, maka itu tidak berlaku bagi kami. Saya harus kembali bekerja di Jakarta, sedangkan suami berkuliah di Jogja. Terlebih suami tengah struggling dengan tesisnya. Wish him luck ya ! Hihihi. Sebelum kami menikah, kami telah berdiskusi panjang soal kemungkinan menjalani long distance marriage (LDM) sementara waktu. Tentu banyak pertimbangannya  -yang tidak bisa kami bagikan pada publik . Kami berdua sama-sama sepakat untuk menjalani dan menghadapi LDM sebagai bagian dari fase pernikahan. Kami sebut fase sebab berdasarkan pengalaman banyak orang, LDM sangat mungkin terjadi pada pasangan suami istri dalam kurun waktu tertentu  selama mereka menikah. Saya pribadi juga tidak pernah menyangka saya akan mengalami fase LDM secepat ini. Bukan perkara mudah! :( Tapi jika memang sudah surat