Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Jumpalitan Hati Jadi Founder Komunitas Anak Broken Home

Menjadi founder suatu komunitas sejatinya tidak menjadi salah satu impian dalam hidup saya. Saya sungguh sadar bahwa menjadi founder komunitas ibarat membangun rumah dimana kita sendirilah yang menjadi arsitek, tukang, sekaligus penghuninya. Jika ingin rumah kokoh kuat dan tahan lama, maka fondasinya harus bagus dan perawatannya harus rutin. Sama halnya dengan membangun komunitas: tidak bisa asal bangun dan lambat laun mangkrak begitu saja. Secara definisi komunitas adalah kelompok sosial yang memiliki kesadaran bersama (senasib, sepenanggungan, atau satu ketertarikan) dan saling berinteraksi. Di belahan bumi ini tak terhitung jumlah komunitas yang berkembang. Setiap komunitas pastilah memiliki visi, misi dan tujuan yang positif. Entah untuk mengembangkan minat, mengasah bakat, memperluas jejaring dan lainnya. Gejolak Batin Membangun Komunitas untuk Anak Broken Home Pada Februari 2015, mendadak terlintas dalam benak untuk membangun komunitas yang mewadahi anak – anak br

Belajar dari Doraemon dan Tomorrowland

Sebuah film Hollywood berjudul “Tomorrowland” yang rilis pada 2015 memberikan suatu inspirasi tentang masa depan bumi yang semakin terdegradasi lebih cepat dari yang diramalkan. Dikisahkan dalam film tersebut jika peluang kehancuran bumi tidak dipertimbangkan dalam setiap aktivitas manusia maka kehancuran yang diakibatkan akan semakin besar. Sebuah temuan dihadirkan bagi kelompok manusia yang ingin selamat dari kehancuran bumi. Namun hanya mereka yang memiliki kekuasaanlah yang mampu membayar temuan tersebut. Lain cerita dengan film kartun asal Jepang   “Doraemon” yang mengisahkan perjalanan Nobita dan Doraemon di masa depan pada abad ke-21 dimana segala aspek kehidupan serba berteknologi canggih. Daerah – daerah minus potensi disulap menjadi pusat perindustrian. Alat transportasi semakin beragam, gedung – gedung pencakar langit semakin bertambah, sumber daya manusia mulai tergantikan dengan robot, dan masih banyak lagi. Film “Doraemon” dan “Tomorrowland” secara tidak langsu

Saat Kamu Menemukan Dia yang Pas

Saat kamu menemukan dia yang pas, Hari - harimu menjadi penuh keoptimisan Malam - malammu bertabur doa  agar Tuhan merestui harapmu  agar Tuhan mengizinkanmu melabuhkan pilihan padanya Saat kamu menemukan dia yang pas, Mengenang sisa - sisa obrolanmu dengannya justru menambah gelisah Meski demikian itu menjadi candu yang semakin menguatkan doa dan harapmu Saat kamu menemukan dia yang pas, Kamu mulai bimbang "Apakah aku juga pas baginya?" Jakarta, 25 Agustus 2017

Apakah Bekerja Harus Sesuai Passion?

Berbicara soal kerja, bekerja, pekerjaan adalah hal krusial nan hangat untuk muda mudi sepentaraan saya –di samping pembicaraan soal jodoh. Gimana nggak krusial? 1.  Bekerja adalah wahana implementasi ilmu dan keahlian yang kita miliki . Terlepas dari jenjang studi apa saja yang sudah ditempuh, bekerja merupakan salah satu tujuan hidup yang bisa dibilang pokok. Mengapa? Yuk, simak poin berikutnya. 2.  Bekerja adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan, meningkatkan kesejahteraan, mendapatkan penghidupan yang ideal, memberi identitas diri, bahkan menjadi sarana ibadah . Seorang papa muda yang punya bayi mungil, darimanakah dia mendapatkan uang untuk membeli popok? Bekerja. Seorang mama  single fighter  yang harus menghidupi kedua anaknya, darimanakah dia mendapatkan uang? Bekerja. Itulah mengapa bekerja menjadi tujuan hidup –di dunia- yang pokok. Bahkan dalam Islam, perihal pekerjaan pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa,  “Sebaik-baiknya makanan adalah yang dihasilkan oleh tan

Rona di Matamu

Dinding ini dingin Warnanya kusam, kulitnya mengelupas Dinding ini sudah lama dibangun Bertahun Hingga jatuh bangun dan berai Dinding ini beberapa kali hampir runtuh Tulang besinya hampir tak kuat lagi mengakar Rupanya banyak yang lalu lalang yang memoles dinding ini untuk tetap tegak berdiri Dinding ini bisu Kelu bercerita bahwa berdiri kokoh adalah pilihannya  Jakarta, 11 Agustus 2017

Teruntuk Kamu yang Ditakdirkan Jadi Jodohku

Tulisan ini berawal dari keresahanku pada sebuah fase kehidupan bernama pernikahan. Berbicara tentang pernikahan pasti tidak bisa lepas dari apa yang dinamakan jodoh. Sebuah sosok rahasia Tuhan yang sangat dinantikan bagi banyak orang yang belum menemukannya. Pun juga aku. Meski setiap detik kehidupan di bumi adalah murni kuasa Tuhan, terkadang aku memohon untuk lebih cepat dipertemukan denganmu agar kita bisa segera meniti jalan kehidupan bersama. Sebab aku yakin kamu yang ditakdirkan menjadi jodohku sangat menerima adanya aku yang jauh dari kata baik dan sempurna. Membahas perihal jodoh memang tak akan pernah usai. Jodoh memang tabir yang penuh misteri. Membuat rindu hingga nyeri bagi sesiapa yang tengah tabah menantikan kehadirannya. Dalam kebanyakan konsepsi, jodoh berada di tangan Tuhan.  Tapi dalam pandanganku jodoh berada di tangan manusia, Tuhan hanya merestui. Bobot, Bibit, Bebet Aku tidak jarang mengeluhkan adanya tiga kriteria dalam menemukan jodoh yang seo