Apakah Bekerja Harus Sesuai Passion?

Berbicara soal kerja, bekerja, pekerjaan adalah hal krusial nan hangat untuk muda mudi sepentaraan saya –di samping pembicaraan soal jodoh. Gimana nggak krusial?

1. Bekerja adalah wahana implementasi ilmu dan keahlian yang kita miliki.Terlepas dari jenjang studi apa saja yang sudah ditempuh, bekerja merupakan salah satu tujuan hidup yang bisa dibilang pokok. Mengapa? Yuk, simak poin berikutnya.
2. Bekerja adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan, meningkatkan kesejahteraan, mendapatkan penghidupan yang ideal, memberi identitas diri, bahkan menjadi sarana ibadah.Seorang papa muda yang punya bayi mungil, darimanakah dia mendapatkan uang untuk membeli popok? Bekerja. Seorang mama single fighter yang harus menghidupi kedua anaknya, darimanakah dia mendapatkan uang? Bekerja. Itulah mengapa bekerja menjadi tujuan hidup –di dunia- yang pokok. Bahkan dalam Islam, perihal pekerjaan pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa, “Sebaik-baiknya makanan adalah yang dihasilkan oleh tangannya sendiri. Sungguh Nabi Daud juga punya keahlian dan punya usaha sendiri.” (HR. Imam Bukhari)

Bekerja Harus Sesuai Passion?
Setelah kita sama – sama sepakat betapa penting dan krusialnya bekerja, ada satu pertanyaan yang paling menggelitik sepanjang masa: bekerja itu harus sesuai passion nggak, sih?

Well, saya baru bekerja hampir 6 bulan dan pertanyaan ini selalu mengemuka saat ngobrol dengan teman – teman baik secara online maupun offline. Dengan masih singkatnya pengalaman kerja tersebut, saya belum bisa memberikan jawaban yang dinilai melegakan sebab saya selalu hanya menjawab: yang penting kamu enjoy dalam bekerja. Artinya mau pekerjaanmu sesuai passion atau tidak, kamu tetap enjoy!

“Bukannya kalau enjoy itu berarti kita bekerja sesuai passion?”

Belum tentu!

Mari kita telaah apa itu passion secara harfiah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, passion disebut ‘renjana’ adalah rasa yang kuat dari dalam hati. Seorang ahli psikologi sosial, Vallerand (2003), mendefinisikan passion sebagai kecenderungan kuat seseorang untuk melakukan suatu aktivitas sebagai pernyataan dirinya. Dikaitkan dengan konteks passion dalam pekerjaan, maka seseorang akan menyatakan diri melalui pekerjaannya. Nah, gimana ya?

Intinya sih kalau kata Bill Butler, “Passion is oxygen of the soul”. Terkait hal ini banyak orang lantas berpendapat “Follow your passion, and you will never work a day in your life”.

Apa iya demikian?
Lagi – lagi, belum tentu.

Apakah bekerja dengan enjoy bisa ditentukan semata oleh passionate atau tidaknya seseorang dengan pekerjaannya? Apakah tidak ada faktor lain yang sama pentingnya?

Setelah saya memasuki dunia pekerjaan, ternyata memang ada banyak hal yang secara realistis harus diperhitungkan dalam memilih karir supaya bisa bekerja dengan enjoy, diantaranya:

1.      Gaji
Bagi kebanyakan muda mudi yang baru saja lulus dan tengah mencari pekerjaan, obrolan soal gaji merupakan hal yang paling dihindari. Prinsip mereka adalah yang penting cari kerja dulu, cari pengalaman dulu, toh juga masih entry levelGuys,.. Kalau boleh jujur, nggak sedikit teman – teman saya yang kemudian tersendat dan tidak bergairah dalam bekerja karena akhirnya menyadari bahwa gaji mereka ‘tidak seberapa’, meski pengalaman kerja memang menjadi tolak ukur.

Sebenarnya besar kecilnya gaji sangatlah relatif. Tergantung pada subyek dan kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi. Jika kamu merupakan tulang punggung keluarga, maka nominal gaji menjadi hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan (apalagi ditambah kamu juga harus berusaha nabung buat menikah, hehe). 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sonya Lyubomirsky dari University of California dengan menggunakan data lebih dari 250.000 orang membuktikan bahwa jumlah pendapatan sangat berkorelasi dengan kebahagiaan. Hasilnya, 92% responden setuju bahwa gaji menentukan kebahagiaan dan kepuasan kerja (enjoy-red). Saya pun juga setuju dengan hal ini. So, jangan buru – buru mengelak anggapan bahwa gaji itu pertimbangan penting dalam mencari pekerjaan ya. 


2.      Kesempatan Berkembang
Hasil saya ngobrol dengan teman – teman sejawat, banyak lho mereka yang bekerja tapi nggak bisa berkembang. Sebagai contoh kasus, ada seorang teman yang hampir nggak ada pekerjaan setiap harinya. Tapi digaji! Berangkat jam delapan pagi, pulang jam lima sore. Selama hampir sembilan jam di kantor kalau ada kerjaan ya dikerjain, kalau nggak ada ya youtube-an.

Lain kasus, ada seorang teman yang bekerja di suatu perusahaan yang masih kental senioritasnya. Para pekerja entry level masih dianggap sebelah mata. Suara mereka tak didengar. Rintihan mereka tak terjamah. Halah.

Kasus semacam ini nggak hanya menimpa seorang dua orang, tapi lumayan banyak! Well bukan saya memunculkan polemik ya, tetapi dua kasus di atas memang sering ditemukan di beberapa tempat kerja. Alhasil? Mereka berpotensi nggak bisa berkembang! Beberapa skills yang harusnya terasah menjadi tumpul, lebih parahnya lagi gairah kerja bisa menurun dan jadi pengen nikah aja. Kesempatan berkembang linier dengan ke-enjoy-an dalam bekerja sehingga proyeksi masa depan jadi lebih optimis, bukan?



3.      Prestise
“Asyique banget ya kalo bisa kerja di P*N! Sejahteraah.”
“Wih, Perta*ina oprec tuh! Ayo yang pengen jadi calon mantu idaman!!”
“Gilaaa, si A kerja di Trave*oka? Itu ‘kan lingkungan kerjanya mirip di G*ogle!”
“Ah, mending jadi P*S! Pensiunnya bisa buat nyenengin cucu!”

Prestise. Siapa sih yang nggak mau kerja di perusahaan A karena gajinya yang menggiurkan? Siapa sih yang nggak mau kerja di perusaahaan B karena lingkungannya seru?

Setiap waktu kita terpapar dengan pelabelan banyak hal, terutama soal pekerjaan. Penilaian orang terhadap pekerjaan yang kita jalani umumnya dipengaruhi oleh stereotype yang berkembang di masyarakat. Contoh sederhana, seorang yang bekerja di perusahaan multinasional dianggap punya prestise karena dinamika kerja lebih kompetitif dan proyeksi karir yang lebih pesat. Sementara, pekerjaan sebagai pegawai negeri juga dianggap punya prestise karena diprediksi punya gaji besar dan jaminan hari tua.

Setiap individu punya idealisme dan sudut pandang berbeda dalam memaknai sebuah prestise pekerjaan. Prestise juga menjadi salah satu faktor enjoy dalam bekerja sekalipun mungkin sebenarnya tidak passionate dengan pekerjaan atau gaji sebenarnya masih belum sesuai harapan atau kesempatan berkembang lebih kecil, dan lainnya. Yang penting punya prestise.

Tapi jangan salah, prinsip ‘yang penting punya prestise’ bisa menjadi trigger untuk bertahan dengan pekerjaan, bahkan melesatkan karir lho! Teman sejawat saya banyak yang bertahan dengan pekerjaan karena prestisenya yang wow meskipun memang perlu bertahan dengan aral gelombang selama melakoninya. Dan yaa.. they made it successfully!



4.      Passion
Mengapa kita perlu bekerja sesuai dengan bakat dan minat (passion) kita? Mengapa para psikolog pendidikan tidak henti-hentinya mensosialisasikan kepada masyarakat, khususnya yang berada dalam dunia pendidikan untuk menyadari bakat dan minat peserta didik? Karena ternyata memang terdapat perbedaan hasil kerja antara mereka yang passionate dengan yang tidak.

Menurut Dinda Nocyandri, M.Psi, berikut merupakan beberapa karakteristik orang yang bekerja sesuai passion.
  • Orang yang bekerja sesuai dengan passion lebih memiliki motivasi untuk mengembangakan diri, sehingga secara otomatis hasil kerjanya akan terlihat lebih baik. Ia tidak akan pernah puas dengan hasilnya.
  • Cenderung lebih jarang mengalami stress kerja.
  • Lebih sering merasa happy dan tidak tertekan dalam menjalani pekerjaan.

Sedikit sharing perihal passion, dulu saya beranggapan bahwa jalan hidup saya berada di dunia jurnalistik atau broadcasting.  Sejak saya masih belia usia 2 tahun-an, benda pertama yang saya ambil dari kotak mainan adalah microphone! Haha. Seiring berjalannya waktu, ternyata saya passionate di public speaking. Sejak sekolah dasar kelas dua saya menjuarai lomba baca puisi dan pidato. Di samping itu saya juga punya kegemaran menulis. Sejak SMP, beberapa kali cerita pendek tulisan saya dimuat di majalah provinsi sekelas MOP.

Bertumbuh kembangnya saya dengan passion tersebut, semakin membulatkan cita – cita saya untuk menjadi produser film atau produser acara televisi dimana saya pasti bisa mengelaborasikan passion yang saya miliki. Lulus dari SMA, saya sudah bertekad besar untuk mengambil jurusan perfilman di salah satu institut seni di Indonesia. Tapi kok tiba – tiba nyasar di Fakultas Kehutanan UGM? Itu cerita lain hehe.

Nah, selepas saya lulus kuliah saya masih ingin mengejar karir di jurnalistik atau broadcasting. Saya ejawantahkan keinginan tersebut dengan mengikuti salah satu rekrutmen stasiun televisi masa kini, NET TV! Beneran. Saya merupakan salah satu insan manusia dari empat puluh ribu peserta Multimedia Development Program V tahun 2017. Meski akhirnya gagal sebelum tahap wawancara sih heheehehe...
Temukan saya pada gambar ini (Doc. Net TV)

Ini adalah salah satu pengalaman mencari kerja yang berkesan banget buat saya sih. Buanyaaak biyanget coyyy pesertanya dalam sekali waktu tes…..

Back to our topic,
Di samping NET TV, saya juga mencari peruntungan di perusahaan jurnalistik dan broadcasting lainnya. Saya nggak perlu menyebutkan mana saja itu, sebab pada akhirnya Tuhan membuka suatu jalan. Singkat cerita setelah mengikuti alur rekrutmen yang ada, saya diterima di perusahaan konsultan agribisnis yang menangani proyek pemerintah atau instansi Australia di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.

Apakah pekerjaan saya saat ini sesuai passion?
Dari segi bidang perusahaan memang tidak sesuai passion yang telah saya impikan sejak lama. Maksud saya, perusahaan saya saat ini bukanlah perusahaan jurnalistik atau broadcasting. Namun demikian saya kemudian sadar bahwa dari sekian job descriptions yang saya miliki, hampir seluruhnya adalah hal yang menyenangkan buat sayaPassion saya di bidang public speaking dan kepenulisan juga bisa saya elaborasikan selama bekerja. So, saya sangat enjoy melakoni pekerjaan saya saat ini, meski tidak sebagai seorang jurnalis atau broadcaster :)

Selama hampir 6 bulan bekerja ini jugalah, saya menyadari bahwa sesungguhnya passion is the fuel: skill is the vehicle you'll drive in. Barangkali saya memang memiliki passion besar di bidang jurnalistik dan broadcasting. Tapi soal skills saya dikeduanya? Tentu masih kalah jauh dengan mereka yang misal kuliah di jurusan jurnalistik dan broadcasting.


Hidup ini penuh entitas dan kompleksitas yang tinggi. Setiap pengambilan keputusan perlu kecermatan. Setiap pertimbangan butuh alasan. 

Mencari pekerjaan berarti mencari wahana untuk kemaslahatan diri, kemaslahatan keluarga dan kemuliaan akhirat. Jika di awal saya paparkan ada beberapa pertimbangan dalam memilih karir seperti gaji, kesempatan berkembang, prestise, passion, dan tentunya skills, konon ada hal yang sangat menentukan ‘kesesuaian’ pekerjaan yang bisa kita peroleh di masa depan, yaitu ikhtiar kita di masa lalu... serta keberuntungan.


Pungkasan dari tulisan ini bermuara pada pemahaman bahwa passion nyatanya hanya satu elemen dari sekian banyak pertimbangan memilih pekerjaan. Setuju? Sukses untuk kita semua, ya!


Jakarta, 22 Agustus 2017.






2 komentar :

Suggested Article to Read

Trimester Kedua Kehamilan: Milestone yang Menakjubkan

Usia kehamilan 6 bulan. Segar 'kan ya? Sebuah Penyegaran Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman dan khalayak umum yang ...

My Instagram

Copyright © dianyuanitaw.com. Made with by OddThemes