Langsung ke konten utama

Belajar dari Doraemon dan Tomorrowland


Sebuah film Hollywood berjudul “Tomorrowland” yang rilis pada 2015 memberikan suatu inspirasi tentang masa depan bumi yang semakin terdegradasi lebih cepat dari yang diramalkan. Dikisahkan dalam film tersebut jika peluang kehancuran bumi tidak dipertimbangkan dalam setiap aktivitas manusia maka kehancuran yang diakibatkan akan semakin besar. Sebuah temuan dihadirkan bagi kelompok manusia yang ingin selamat dari kehancuran bumi. Namun hanya mereka yang memiliki kekuasaanlah yang mampu membayar temuan tersebut.

Lain cerita dengan film kartun asal Jepang   “Doraemon” yang mengisahkan perjalanan Nobita dan Doraemon di masa depan pada abad ke-21 dimana segala aspek kehidupan serba berteknologi canggih. Daerah – daerah minus potensi disulap menjadi pusat perindustrian. Alat transportasi semakin beragam, gedung – gedung pencakar langit semakin bertambah, sumber daya manusia mulai tergantikan dengan robot, dan masih banyak lagi.

Film “Doraemon” dan “Tomorrowland” secara tidak langsung memiliki keterkaitan yang cukup erat atas gambaran dunia di masa depan. Bahwa semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka akan menghasilkan peradaban yang baru. Jika pada generasi Y, orang akan susah payah mencari pengetahuan lewat pengajaran secara langsung, mencari jawaban atas ketidaktahuan lewat buku cetak maka generasi milleneal saat ini sangat dimudahkan dengan ketersediaan internet. Sama halnya jika pada abad ke-19, mayoritas orang menebang pohon dengan menggunakan kapak maka masuk abad ke-20 sudah dimudahkan dengan teknologi harvester yang diyakini lebih efektif dan efisien.

Kisah “Doraemon” dalam waktu dekat tidak akan hanya menjadi isapan jempol belaka. Sebab para pakar teknologi mulai mengembangkan teknologi seperti tampilan holografis 3D, virtual reality dan kecanggihan teknologi lainnya. Para ahli bangunan juga mulai menemukan alat penunjang pembangunan yang lebih instan seperti pembuatan paving jalan dengan paving printer.

Dalam suatu pembangunan seperti infrastruktur dan teknologi tentu membutuhkan sumber daya energi yang lebih banyak. Pembangunan yang berlangsung saat ini mengarah pada pembangunan yang serba cepat dimana kecenderungan penggunaan energi mayoritas masih terbatas pada energi tidak terbarukan seperti minyak dan batu bara. Sebagai upaya penghematan cadangan energi tidak terbarukan, perlu dilakukan inovasi penggunaan energi yang terbarukan seperti PLTS, PLTA, dan biofuel.

Tentu peradaban yang lebih maju dan serba mudah seperti yang digambarkan dalam film “Doraemon” menjadi impian setiap manusia. Akan tetapi jika mengilhami film “Tomorrowland” maka pelajaran yang dapat diambil adalah pentingnya menjaga keseimbangan di muka bumi. Apalagi mengingat para pakar iklim dunia yang sudah memberikan tanda bahaya bahwa bumi tengah menghadapi pemanasan global yang cukup parah. Aktivitas manusia yang tidak mempertimbangkan kelestarian lingkungan secara signifikan mengakibatkan kerusakan yang lebih parah berupa bencana alam dan terjangkitnya penyakit yang disebabkan oleh virus jenis baru.


Proyeksi masa depan tersebutlah yang saat ini mendorong berbagai pemangku pihak untuk menerapkan sustainability development. Dengan diterapkannya sustainability development maka perdamaian antar manusia pun dapat terus dijaga karena tumpang tindih kepentingan dapat ditekan seminimal mungkin. Perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi wajib dibarengi dengan kesadaran untuk mencapai asas kelestarian demi generasi di masa depan. Dengan demikian, kemungkinan degradasi bumi seperti yang dikisahkan dalam “Tomorrowland” dapat dicegah, meski memang tidak dapat dihindari sebagai salah satu tanda – tanda kiamat.


Yogyakarta, 2 Maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Pernikahan Impian: Intimacy, Simplicity, and Low Budget

“Marriage is not a noun; it’s a verb. It isn’t something you get, but something you do.”-Anonim 
Atas izin Allah dan ridha dari lika-liku panjang, akhirnya saya menikah pada 28 Oktober 2018. Momen pernikahan adalah momen yang paling membahagiakan, but also quite challenging at the same time. Terlebih saya sebagai survivor broken home yang sempat memiliki trauma pernikahan orang tua.
Pada edisi tulisan kali ini, saya akan berbagi tentang persiapan yang saya dan Mas Azwar (suami) lakukan sebelum melangsungkan acara pernikahan. Ulasan akan lebih banyak pada manajemen nikah on budget! Hehehe. Tentunya setiap orang memiliki cita-cita dan pengalaman menikah tersendiri. Sehingga perlu saya sampaikan di awal bahwa apa yang saya bagikan disini adalah berdasar cita-cita dan pengalaman kami yang barangkali berbeda dengan pembaca. Namun semoga bisa memperkaya khazanah kita bersama ya! ;)



Introduksi: Persiapan Awal Banyak persepsi yang menyebut bahwa acara akad dan resepsi atau tasyakuran menjadi tang…

Jumpalitan Hati Jadi Founder Komunitas Anak Broken Home

Menjadi founder suatu komunitas sejatinya tidak menjadi salah satu impian dalam hidup saya. Saya sungguh sadar bahwa menjadi founder komunitas ibarat membangun rumah dimana kita sendirilah yang menjadi arsitek, tukang, sekaligus penghuninya. Jika ingin rumah kokoh kuat dan tahan lama, maka fondasinya harus bagus dan perawatannya harus rutin. Sama halnya dengan membangun komunitas: tidak bisa asal bangun dan lambat laun mangkrak begitu saja.
Secara definisi komunitas adalah kelompok sosial yang memiliki kesadaran bersama (senasib, sepenanggungan, atau satu ketertarikan) dan saling berinteraksi. Di belahan bumi ini tak terhitung jumlah komunitas yang berkembang. Setiap komunitas pastilah memiliki visi, misi dan tujuan yang positif. Entah untuk mengembangkan minat, mengasah bakat, memperluas jejaring dan lainnya.

Gejolak Batin Membangun Komunitas untuk Anak Broken Home Pada Februari 2015, mendadak terlintas dalam benak untuk membangun komunitas yang mewadahi anak – anak broken home. Ide itu…

KILAS : HIKMAH GAGAL BUNUH DIRI SEKIAN KALI (Bag. I)

“Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh kemudian hari.”
Satu pepatah dari Pramoedya Ananta Toer menggerakkan tangan saya untuk menulis sekilas perjalanan hidup selama saya tumbuh dan berkembang di bumi yang subur ini. Saya menulis untuk tak terhitung anak korban (survivor) broken home yang masih abu – abu dalam menghadapi getirnya hidup.