Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Perempuan Penunggu dan Ksatria Peneduh (1/2)

Ruas jalan yang sunyi untuk perempuan yang hatinya dihinggapi sepi. Rupa titik – titik air menjadi buih karena hujan yang tak berkesudahan. Langit abu gelap menggumpal pertanda hujan akan turun lebih lama. Terlebih matahari muncul temaram semenjak pagi. Perempuan itu telah menunggu beberapa jam di gubuk tepi sawah. Menunggu adalah bagian besar dari hidupnya. Maka barang tentu sabar sudah menjadi nyawa perjalanannya. Perempuan yang namanya tertulis sebagai surah keempat dalam Al Qur’an, Annisa, itu meyakini bahwa menunggu adalah bentuk perjuangan. Berpacu dengan waktu, bermain dengan logika, beradu dengan keyakinan adalah rumus yang tak bisa dijabarkan dalam sebuah penantian. Sementara, setiap penantian merupakan hal yang berharga. Sebab jika tidak berharga, mengapa harus ditunggu? Dinantikan? “Hoiii! Mau ikut denganku?” Jemari Annisa berhitung sebelum menjawab tawaran lelaki bermotor bebek yang tengah berhenti di hadapannya. Tawaran ketiga belas, pikirnya.