Langsung ke konten utama

Perempuan Penunggu dan Ksatria Peneduh (1/2)


Ruas jalan yang sunyi untuk perempuan yang hatinya dihinggapi sepi.

Rupa titik – titik air menjadi buih karena hujan yang tak berkesudahan. Langit abu gelap menggumpal pertanda hujan akan turun lebih lama. Terlebih matahari muncul temaram semenjak pagi.

Perempuan itu telah menunggu beberapa jam di gubuk tepi sawah. Menunggu adalah bagian besar dari hidupnya. Maka barang tentu sabar sudah menjadi nyawa perjalanannya.

Perempuan yang namanya tertulis sebagai surah keempat dalam Al Qur’an, Annisa, itu meyakini bahwa menunggu adalah bentuk perjuangan. Berpacu dengan waktu, bermain dengan logika, beradu dengan keyakinan adalah rumus yang tak bisa dijabarkan dalam sebuah penantian. Sementara, setiap penantian merupakan hal yang berharga. Sebab jika tidak berharga, mengapa harus ditunggu? Dinantikan?

“Hoiii! Mau ikut denganku?”
Jemari Annisa berhitung sebelum menjawab tawaran lelaki bermotor bebek yang tengah berhenti di hadapannya.

Tawaran ketiga belas, pikirnya.

“Tidak! Terima kasih.”

Lelaki itu lantas kembali melesat. Meninggalkan ruas jalan yang kelelahan menanggung cerita.


Senja mendekap. Keyakinan masih saja utuh.

“Aku sudah tiga kali melintasi jalan ini dan kau masih saja disini. Apa atau siapa yang kau tunggu?”

Annisa menghela nafas panjang, menguapkan aroma petrichor yang berhamburan dari dalam tanah.

“Seorang yang berharga.”
“Seberapa berharganya?”
“Lebih dari isi dunia.”
“Mengapa demikian?”
“Dia akan sanggup mengantarku pada perjalananku berikutnya.”
“Mengapa dia?”
“Karena aku meyakininya. Itu saja.”
“Apakah dia akan datang dalam penantianmu?”
“Aku tidak tahu.”
“Lantas sampai kapan kau menunggu?”

Annisa terdiam. Memandangi wajah wanita berwajah teduh di hadapannya yang kuyup oleh hujan.

“Sampai aku menemukan ketidakyakinan dalam keyakinanku.”


Jakarta, 5 Desember 2017
---
bersambung Perempuan Penunggu dan Ksatria Peneduh (2/2)

Sebab tanganku bekerja lebih hebat dari bibirku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Pernikahan Impian: Intimacy, Simplicity, and Low Budget

“Marriage is not a noun; it’s a verb. It isn’t something you get, but something you do.”-Anonim 
Atas izin Allah dan ridha dari lika-liku panjang, akhirnya saya menikah pada 28 Oktober 2018. Momen pernikahan adalah momen yang paling membahagiakan, but also quite challenging at the same time. Terlebih saya sebagai survivor broken home yang sempat memiliki trauma pernikahan orang tua.
Pada edisi tulisan kali ini, saya akan berbagi tentang persiapan yang saya dan Mas Azwar (suami) lakukan sebelum melangsungkan acara pernikahan. Ulasan akan lebih banyak pada manajemen nikah on budget! Hehehe. Tentunya setiap orang memiliki cita-cita dan pengalaman menikah tersendiri. Sehingga perlu saya sampaikan di awal bahwa apa yang saya bagikan disini adalah berdasar cita-cita dan pengalaman kami yang barangkali berbeda dengan pembaca. Namun semoga bisa memperkaya khazanah kita bersama ya! ;)



Introduksi: Persiapan Awal Banyak persepsi yang menyebut bahwa acara akad dan resepsi atau tasyakuran menjadi tang…

Jumpalitan Hati Jadi Founder Komunitas Anak Broken Home

Menjadi founder suatu komunitas sejatinya tidak menjadi salah satu impian dalam hidup saya. Saya sungguh sadar bahwa menjadi founder komunitas ibarat membangun rumah dimana kita sendirilah yang menjadi arsitek, tukang, sekaligus penghuninya. Jika ingin rumah kokoh kuat dan tahan lama, maka fondasinya harus bagus dan perawatannya harus rutin. Sama halnya dengan membangun komunitas: tidak bisa asal bangun dan lambat laun mangkrak begitu saja.
Secara definisi komunitas adalah kelompok sosial yang memiliki kesadaran bersama (senasib, sepenanggungan, atau satu ketertarikan) dan saling berinteraksi. Di belahan bumi ini tak terhitung jumlah komunitas yang berkembang. Setiap komunitas pastilah memiliki visi, misi dan tujuan yang positif. Entah untuk mengembangkan minat, mengasah bakat, memperluas jejaring dan lainnya.

Gejolak Batin Membangun Komunitas untuk Anak Broken Home Pada Februari 2015, mendadak terlintas dalam benak untuk membangun komunitas yang mewadahi anak – anak broken home. Ide itu…

KILAS : HIKMAH GAGAL BUNUH DIRI SEKIAN KALI (Bag. I)

“Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh kemudian hari.”
Satu pepatah dari Pramoedya Ananta Toer menggerakkan tangan saya untuk menulis sekilas perjalanan hidup selama saya tumbuh dan berkembang di bumi yang subur ini. Saya menulis untuk tak terhitung anak korban (survivor) broken home yang masih abu – abu dalam menghadapi getirnya hidup.