LDM, Karier dan Trimester Pertama Kehamilan

Memutuskan LDM

Tiga hari setelah acara pernikahan pada 28 Oktober 2018, saya dan suami harus berpisah jarak. Jika kebanyakan pengantin baru akan menghabiskan waktu awal pernikahan dengan berbulan madu, maka itu tidak berlaku bagi kami. Saya harus kembali bekerja di Jakarta, sedangkan suami berkuliah di Jogja. Terlebih suami tengah struggling dengan tesisnya. Wish him luck ya! Hihihi.

Sebelum kami menikah, kami telah berdiskusi panjang soal kemungkinan menjalani long distance marriage (LDM) sementara waktu. Tentu banyak pertimbangannya -yang tidak bisa kami bagikan pada publik. Kami berdua sama-sama sepakat untuk menjalani dan menghadapi LDM sebagai bagian dari fase pernikahan. Kami sebut fase sebab berdasarkan pengalaman banyak orang, LDM sangat mungkin terjadi pada pasangan suami istri dalam kurun waktu tertentu selama mereka menikah.

Saya pribadi juga tidak pernah menyangka saya akan mengalami fase LDM secepat ini. Bukan perkara mudah! :( Tapi jika memang sudah suratan, maka kuncinya ada pada penerimaan kemudian menjalaninya dengan segenap keikhlasan dan keyakinan.
 
Maternity shoot | Doc. Project Sentimental

Saya hamiiiil?

Pada tanggal 12 Desember 2018, saya iseng tes kehamilan. Beneran iseng karena pada saat itu saya tidak merasakan gejala kehamilan apapun. Terlebih pada minggu tersebut saya baru saja kembali dari site visit di Lampung. 

Momen saat site visit di Lampung | Doc. Pribadi

Namun entah mungkin jadi sebuah firasat, saya yang terbangun sekitar pukul 04.30 pagi mendadak bongkar tas obat dan mengambil satu-satunya test pack yang saya punya. Yess, buat yang sudah menikah barangkali menyetok test pack adalah suatu hal yang penting dilakukan ;)

Dan……

Oh My God! Test pack menunjukkan dua garis merah!

Saya terdiam beberapa saat, mencoba mencerna situasi. Kembali saya amati test pack tersebut. Kemudian saya merinding.

Beneran nggak ya? Beneran nggak sih ini? Kalo iya, berarti pembuahan yang kapan? #plak.

Saya terus bertanya-tanya dalam hati karena sejak awal menikah dan LDM saya tidak pernah menggunakan perhitungan kalender masa subur (buat yang belum menikah dan belum mengerti perkara ini bisa baca di: https://www.alodokter.com/kalender-haid-untuk-menghitung-masa-subur).

Rasanya campur aduk. Bingung, bahagia, was-was, juga sedih karena saya hanya sendirian di kos, tidak ada suami atau famili yang bisa saya ajak sharing tatap muka. Saya benar-benar bingung harus berekspresi bagaimana. Selepas itu saya putuskan untuk shalat Subuh dan ngobrol dengan Tuhan, memanjatkan nikmat syukur atas apapun dan memohon perlindungan agar senantiasa dijaga dengan sebaik-baiknya iman.

Orang yang pertama saya kabari setelah mengetahui hasil test pack tersebut adalah ibu mertua sebab beliau merupakan tenaga kesehatan. Sehingga jika diperlukan, rekomendasi atau rujukannya berdasarkan pengetahuan medis di samping juga tentu pengalaman pribadi. Ibu mertua kemudian memberikan saran untuk kembali melakukan tes kehamilan seminggu setelah tes pertama. Disarankan juga untuk menggunakan test pack lebih dari satu dengan merk yang berbeda-beda.

Suami baru saya kabari pada siang harinya dengan mengirimkan foto hasil test pack via chat WhatsApp. Dan apa respon pertama suami? Hanya emoticon-emoticon yang sarat kebingungan :( Tapi tidak lama kemudian suami menelepon dan memastikan kondisi kesehatan saya karena saya bekerja full time, nine to five, kadang lembur dan mobile, sehingga harus memperhatikan kondisi badan utamanya asupan nutrisi.

Seminggu berselang saya kembali melakukan tes kehamilan. Dag dig dug selama menantikan munculnya garis merah, apakah satu atau dua. Di menit pertama ketiga test pack secara hampir bersamaan menunjukkan dua garis merah. Kali ini reaksi saya berbeda dengan reaksi saat tes pertama. Mata saya tiba-tiba basah. Kedua tangan refleks mengelus perut. Saya tidak bisa menjabarkan bagaimana rasanya, tapi sungguh ada kedamaian yang menyejuki kalbu.

Karena lagi-lagi saya hanya sendirian di kos, saya foto hasil ketiga test pack tersebut dan saya kirimkan ke suami. Selepasnya saya tunaikan shalat Subuh diakhiri dengan sujud syukur yang dalam dan panjang. Amanah baru dan besar menanti saya di depan mata.


LDM, Kerja Full Time dan Kehamilan

Selama mengetahui positif hamil (berdasarkan hasil test pack), saya belum banyak mengalami gejala kehamilan seperti morning sickness yang umumnya dialami oleh banyak orang. Porsi makan juga masih normal seperti biasa, tidak ada preference tertentu. Yang paling saya rasakan perubahannya sih jadi gampang mengantuk, bawaannya pengen bobo seharian tapi harus ditahan karena rutinitas pekerjaan. Perubahan mood karena faktor hormonal juga belum betul-betul saya rasakan.

Tapi itu semua berubah ketika saya pulang ke Jogja…..

Sudah menjadi timeline kantor saya meliburkan staf-stafnya pada kurun waktu natal hingga tahun baru, salah satu alasan utamanya karena kantor kami mengikuti sistem Australia. Sehingga yeayyy~ Saya bisa pulang ke Jogja dengan agenda bertemu suami dan mengecek kehamilan perdana di dokter kandungan.

Entah bawaan bayi atau saya yang jadi manja.. sejak hari pertama saya bertemu suami, saya merasakan mual-mual yang cukup intens, nggak doyan makan, indra penciuman semakin tajam, hingga bawaan ngomel nggak jelas. Bahkan saya nggak mau dekat-dekat suami, baunya aneh!
Keesokan harinya saya melakukan cek kehamilan di rumah sakit. Untuk pertama kalinya di-USG, so excited!  Dokter pun menjelaskan usia kehamilan saya sudah masuk 6 minggu, sudah terbentuk kantong kehamilan, namun belum ada janin. Dokter menyarankan untuk memperbanyak asupan asam folat, makan makanan yang bergizi, perbanyak istirahat, dan menghindari kelelahan. Sebab dalam beberapa kasus, karena faktor tertentu, janin bisa saja tidak tumbuh atau apa yang dinamakan dengan kehamilan kosong.

Hasil USG 6 minggu terbentuk kantong kehamilan | Doc. Pribadi

Saya hanya meringis dan hanya bisa pasrah. Saat itu saya sudah membayangkan kehamilan yang saya jalani ini mungkin akan terasa lebih berat karena kondisi LDM dan bekerja full time.

Momen usia kehamilan sekitar 10 minggu, difotoin suami

Di minggu pertama Januari 2019 saya sudah kembali ke Jakarta. Gejala kehamilan di trimester pertama mulai nyata  tapi saya tetap harus menjalani pekerjaan dan beraktivitas seperti biasa. Morning sickness tidak saya alami. Saya justru mengalami evening sickness yaitu  mual muntah di malam hari! Biasanya sepulang kerja dan setelah masuk kos, saya baru mengalami mual muntah. Alhamdulillah dedek bayi bisa diajak kerja sama ya nak, emaknya kerja pagi sampai sore jadi mual muntahnya malam aja…. Setelah mual muntah biasanya saya langsung minum air hangat, makan makanan secukupnya (paling doyan makan buah), lalu minum vitamin atau susu ibu hamil.

Tantangan terbesar buat saya sebagai anak kos yang LDM, harus bekerja, dan tengah hamil adalah makanan. Pada trimester pertama kehamilan, tidak dipungkiri saya jadi mudah lelah secara fisik. Aktivitas pekerjaan seharian membuat saya tidak fleksibel lagi untuk memasak seperti biasanya. Sehingga lebih sering saya beli lauk dan sayur di luar atau paling instant adalah pesan go-food.
Beberapa kali saya mengkhawatirkan kondisi bayi saya karena saya jadi cukup sering membeli makanan di luar yangmana saya tidak pernah tahu bagaimana proses memasaknya, apakah higienis atau tidak, dan lain-lain. Tapi apa boleh buat? Saya tidak punya pilihan lain lagi. Meski demikian saya mencoba untuk selalu memperhatikan komposisi makanan yang saya beli. Saya juga selalu menyetok banyak buah-buahan di kos. Kamus saya: setiap hari wajib makan buah yang banyak!


Trust Your Body, Trust Your Baby

Saya sangat bersyukur Allah menjaga saya dan bayi sampai detik ini dengan luar biasa. Trimester pertama yang notabene sering dianggap sebagai trimester yang cukup berat, alhamdulillah atas ridho Allah bisa saya lalui dengan baik. Meski tengah hamil bukan berarti porsi pekerjaan saya di kantor berkurang, semuanya tetap normal seperti biasanya. Aktivitas di luar pekerjaan seperti menulis di portal Good News From Indonesia, merawat komunitas HAMUR, dan masih banyak lain juga tetap saya lakukan. Bahkan saya mendapatkan amanah  untuk bergabung di tim manajemen dengan serangkaian agenda salah seorang teman dekat saya yang berlaga di Puteri Indonesia 2019.

Bersama Sabrina Anggraini, Puteri Indonesia Riau 2019 saat mendampingi shooting video | Doc. Netra Documentation

Selama lima tahun saya belajar mempraktikkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. Meski banyak pasang surutnya, saya tidak melewatkan momen kehamilan ini dengan lebih mindful. Meski usia janin baru beberapa minggu, saya sudah mulai berkomunikasi dengannya. Setiap saya akan melakukan aktivitas, saya ajak bayi untuk mendukung saya.

Dek, ibuk mau berangkat ke kantor.. bantu ibuk ya! Semoga lancar.Dek, ibuk mau nulis nih, adek temenin ibuk ya.
Dan masih banyak afirmasi lainnya.

Setiap malam sebelum tidur saya juga meminta maaf pada janin jika aktivitas seharian membuatnya tidak nyaman dalam rahim, atau mungkin janin menyerap emosi negatif saya sehingga membuatnya tidak tenang. Saya juga berbincang dengan rahim untuk menjadi rahim yang kokoh yang bisa membantu menjaga janin saya sampai dia terlahir ke dunia.

Ya, di samping saya meyakini karsaning Gusti Allah, saya juga meyakini sistem kerja tubuh dan janin. Saya ajak mereka bekerja seirama untuk sama-sama melewati kehamilan dengan sejahtera. Nah, satu hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah kondisi psikis.


Lupa Konsep ‘Trust Your Mind’: Kontraksi Rahim

Saya teringat psikolog saya selalu berpesan, “psikis dan fisik itu bersahabat baik”. Kesehatan mental dan kesehatan fisik saling mempengaruhi! Hal itu saya alami juga selama melewati masa-masa kehamilan ini.

Di usia kehamilan sekitar 13 minggu, mental saya sempat drop karena suatu trigger yang membangkitkan trauma. Bahkan suicidal thoughts yang lama menghilang, tiba-tiba muncul kembali. Kondisi diperparah dengan tidak ada teman berbagi secara tatap muka saat hal tersebut terjadi. Beruntung suami begitu paham dan mampu menenangkan batin saya dari jauh. Setelahnya, saya berkontemplasi dan tetap menggiatkan diri dengan aktivitas.

Efek dari ‘tidak sejahteranya’ psikis saya pada saat itu baru saya rasakan dua minggu setelahnya. Saya mengalami perut mulas dan melilit, pusing, punggung tidak nyaman, dan badan menggigil. Saat kejadian, alhamdulillah bertepatan dengan suami yang tengah menemani saya di Jakarta. Kami masih berpikir saya hanya kurang istirahat dan mungkin salah makan.

Keesokan harinya kami pergi ke rumah sakit dengan agenda utama monthly control. Siapa yang menduga bahwa apa yang saya keluhkan ternyata bukan indikasi bagus untuk janin. Dokter menyampaikan bahwa saya mengalami kontraksi rahim, suatu kondisi jika lebih parah akan menyebabkan prematur dini (keguguran). Faktornya bisa banyak hal mulai dari kelelahan fisik, stress, gangguan kesehatan, dan lain-lain.  Saya terpukul bukan main. Air mata saya tertahan menyaksikan kondisi bayi saya dari layar monitor USG.

Hasil USG saat kontraksi rahim | Doc. Pribadi


Maafkan ibuk, nak.

Setelah itu dokter mewajibkan saya untuk bed rest total selama minimal tiga hari. Dokter juga memberikan beberapa obat-obatan untuk memulihkan kondisi saya.

Momen tersebut yang membuat saya kembali merefleksikan diri akan pentingnya menjaga kesejahteraan psikis, menjaga kesehatan mental. Saya juga mendapat banyak semangat dari kerabat terdekat untuk selalu happy. Sebab anak yang bahagia lahir dari ibu yang bahagia.

Hari-hari berlalu hingga saat saya menulis blog ini usia kehamilan saya akan menginjak tujuh bulan, masih dengan aktivitas yang beragam. Bayi saya pun semakin aktif dan menakjubkan. Semoga Allah senantiasa meridhoi kami, semoga semesta senantiasa mendukung.

[bersambung]

***
Semoga tulisan ini bermanfaat. Nantikan tulisan saya untuk trimester berikutnya, ya!
Bocoran: Di usia kehamilan enam bulan, saya nak-naik Candi Borobudur sampai di level tertinggi!

1 komentar :

  1. Diaaaan, aku ikut mrebes mili bacanyaa :""""
    Kutahu betapa beratnya trimester awal, apalagi full time kerja juga :( tambah LDM (ga kebayang betapa lebih beratnya :""()
    Tapi selamaaaat kamu dan debay sudah melaluinyaaa.. Alhamdulillaah Allah pasti selalu kasih jalan mudah ditengah kesulitan.. Sehat2 terus Dian dan debaay, semoga cpet serumah sm suami ga LDM lagi.. Good luck! ❤️

    BalasHapus

Suggested Article to Read

LDM, Karier dan Trimester Pertama Kehamilan

Memutuskan LDM Tiga hari setelah acara pernikahan pada 28 Oktober 2018, saya dan suami harus berpisah jarak. Jika kebanyakan pengantin ...

My Instagram

Copyright © dianyuanitaw.com. Made with by OddThemes